Hidup ini sebuah perjalanan. Tempat setiap orang menggantungkan harapan. Kesenangan dan keinginan hidup itu adalah fitrah. Tetapi pada praktiknya, banyak dari keinginan itu yang telah melampaui batas kebolehannya, melebihi batas kewajarannya, dan yang lebih mengerikan lagi, banyak yang melanggar batas kehalalannya.
Maka secara sederhana bisa dijelaskan, bahwa kesuksesan di dunia ini, justru harus dibangun dengan penbgharapan kepada kebahagian khirat secara tulus, kuat dan berkesinambungan. Persis seperti prinsip ‘berawal dari akhir’. Artinya, awalilah segala hidup di dunia ini dari dimensi khir, yaitu khirat. Diawali dalam niat, dalm langkah, dan gerak hidup, juga dalam detik-detik penutupannya
Dengan prinsip seperti itu, sesungguhnya seorang mukmin akan tampil dalam puncak keshalihannya: shlih di dunia dan shalih di akhirat. Kerinduannya akan akhirat begitu kuat. Tetapi itu tidak saja ia tuangkan pada kekhusyu’an ibadah-ibadah formal semata, tapi juga ia wujudkan pada keseluruhan karyanya di dunia dengan kerja keras, profesional, dan punya kesiapan bersaing. Hingga, pada detik ketika ia harus pergi menghadap Allah, ia kembali dengan penuh pengharapan akan ampunan Allah dan penerimaan atas amal-amalnya.
Sungguh, dunia ini hanya layak diurus oleh orang-orang seperti itu. Adakah kita di antara orang-orang itu? Semoga….
Taken from: Tarbawi edisi 48 Th.4/Ramdhan 1423 H/21 Nopember 2002.
Ya. Tujuan dan jalan memang merupakan satu paket yang saling mengidentifikasikan jati diri mereka. Tujuan tanpa jalan akan membingungkan, dan jalan tanpa tujuan jelas membuat linglung. Jadi, mestinya tidak ada yang menyanggah soal ini.
Tetapi dalam kehidupan kita hari ini, tujuan dan jalannya sudah tidak lagi menjadi satu paket yang saling menjelaskan. Buktinya, ada orang mengajak kita kepada sebuah tujuan tetapi dengan jalan yang menghancurkan tujuannya sendiri. Ada juga orang yang mengajak kita untuk menyusuri sebuah jalan tetapi dengan tujuan yang tidak bisa menerima jalannya.
Coba, mari kita bergabung dengan teman – teman yang mengajak kita ke surga. Kita tentu sepakat, surga adalah tujuan yang baik, tujuan semua orang. Tetapi ketika kita menpaki jalan yang mereka tunjukkan, kita mulai bertanya. Benarkah surga dapat dicapai dengan jalan yang mereka tunjukkan? Yakni dengan jalan menggunakan buah khuldi yang jelas jelas Tuhan melarang kita untuk memetiknya?
Tentu saja, sebadung – badungnya kita, pastilah kita menginginkan surga sebagai tujuan akhir hidup kita di dunia. Tetapi, pernahkah kita bertanya tentang surga itu ketika kita justru sedang menapaki jalan yang sama sekali tidak bisa menuntun kita ke sana? Mengapa kita hanya mau tahu tujuannya saja , tanpa pernah mau tahu dengan jalan yang kita tempuh -- apakah jelas akan mengantarkan kita ketujuannya?
Sejatinya, kita harus mengetahui betul apakah jalan yang sedang kita tempuh menjamin tujuannya dan tujuan yang sedang kita capai memang merupakan pasangan dari jalannya. Tanpa begini, kita hanya akan menjadi beban jalan yang salah tujuan dan tujuan yang salah jalan.
Sumber: Annida by. Iyus Semoga jalan dakwah yang kita tempuh merupakan jalan yang tepat untuk dapat pula menghantarkan kita pada tujuan yang tepat. Mardhotillah…
***
Sudah dua bulan lebih aku tidak pulang. Entah sudah seperti apa warna kerinduan di hati ibuku saat itu. Ah, ibu…beliau selalu saja merindukanku. Suatu sore ia meneleponku,”Hallo sayang….kapan pulang?” lirih suara itu sarat akan rindu. Dengan sedikit berat, kukatakan padanya bahwa aku belum bisa pulang lantaran agenda di kampus dan organisasi meraup habis sisa – sisa waktuku. Maafkan aku, ibu…
“Mbak, gak pulang kampung tah?” Tanya seorang teman ketika aku sedang menjaga stand Birohmah dibelakang rektorat saat Penerimaan Mahasiswa Baru. “Enggak...”jawabku pelan. “Ih, tega mbak ini! Inget mbak, hak orang tua juga harus dipenuhi. Masak sich, mbak gak kangen?? Cobalah mbak sempetin pulang…ntar nyesel lho!” Ujarnya berapi – api. Aku tidak menaggapi, hatiku sibuk berdialog sendiri. Bu…, aku harus bagaimana…?? Kalau aku pulang, maka akan ada beberapa agenda di sini yang terbengkalai…Tapi aku juga rindu pada ibu…:( “Udah mbak, gak usah kebanyakan mikir, kalo gak ada kuliah, pulang aja. Masalah di organisasi kan bisa didelegasikan ke yang lain buat sementara…” Imbuhnya kembali mencoba meyakinkan. Ya, kurasa ia benar, mungkin sudah saatnya untuk pulang. Dan kebetulan besok aku tidak ada kuliah. Sekilas terbayang olehku sumringah wajah ibu ketika menyambutku saat tiba di rumah nanti. “Bu, aku akan pulang…” Bisik hatiku. Tapi…
“Ukh, jangan lupa ya, besok di aula jam 13.00 kita ada syuro’ dengan fakultas. Berhubung KaBid lagi PU, so anti yang menggantikan. Ana dan yang lain belum begitu paham konsepnya”. Lunglai kubaca SMS itu.
“Ukh, besok kita jadi iftor coz yang lain pada bisa. Anti yang jadi muwajihnya. Kumpul di mushola MoKa jam 16.00. kita sekalian sebar leaflet about Palestinenya di sana. Keep fight yach!!”. Teman liqo’ tidak ketinggalan
Katakanlah: "jika bapak - bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah: 24)
Ya Allah Yang Maha Rahman…Demi Engkau dengan hidayah yang telah Engkau berikan, juga jalan dakwah yang berjuang di atasnya letih tak lagi kurasakan, jangan jadikan aku termasuk ke dalam golongan orang – orang yang fasik… Bismillah…kukuatkan azzam hatiku untuk menunda jadual pulangku. “Sekali lagi maafkan aku bu.., insya Allah setelah semuanya selesai dan sedikit tersedia waktu luang, aku pasti akan pulang….”
Dan senja itu, terputus khusyukku menekuri jalan menuju kostan ketika suara HP mengusikku. Home is calling…”Assalamu’alaikum…” sapaku “Wa’alaikumussalam…” Oh, ternyata kakak perempuanku. Kudengar suaranya tersendat seperti menahan tangis. “Ada apa ini?” Hatiku cemas menduga - duga “Kenapa mbak..?” Dek….cepat pulang…ibu…ibu meninggal…” :'(
Dan aku tergugu dalam perih yang membisu…
Tunggu bu, aku akan pulang….
By. Izzah_Annisa. Ahad 13 Agustus 2006 di 17.00 pm koe. Senja kala, saat rindu kembali menyapa. Turut berduka cita atas meninggalnya ibunda dari ukhti Yeni, SekBid Sosial Masyarakat UKM Birohmah Unila.
Uuuhhh….pasti sebel banget yach kalo ada temen yang kentut di dekat kita. Apalagi kalo kentutnya menebar aroma yang tidak sedap. Uwek! Sudah dipastikan semua akan menutup hidung sambil ngomel-ngomel,”Ih, siapa sich yang kentut!? Gak sopan banget! Mana bau lagi!!” Trozz, kalo si empu kentut belum ngaku juga, pasti akan terjadi saling tuding di sana – sini. Kamu ya yang kentut?! Enak aja! Kamu kaleee…
Ck…ck….ck…begitu dahsyatnya kentut sampai-sampai bisa mengadu domba orang :D:D Padahal kasihan lo si empunya kentut kalo harus nahan-nahan kentutnya…so pasti perutnya kembung and bisa jadi penyakit kalo ditahan-tahan. “Tapi kan bisa nyari tempat yang baik buat kentut!!” Ya..ya…ini memang salah satu adab kentut yang harus diperhatikan oleh si “kentuter” (empu kentut maksudnya… :)). Tapi kalo dah di penghujung peradaban gimana, coba?? Mana ada sich yang bisa menahan kuasa Allah atas kentut?? Hehehe
Yach, apapun tentang kentut, yang pasti – pada dasarnya - kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya. Bahwa Allah tidak semata – mata menciptakan kentut tanpa hikmah dan manfaat dibaliknya.. Bayangkan, kalo seandainya kita gak bisa kentut?? Aduh, dijamin dech, masuk rumah sakit! And berapa harga yang harus dibayar pada rumah sakit untuk sebuah kentut?? Allahu a’lam bishowwab, ana belum pernah survey.. :D
Beside that, gak bisa kentut ternyata dapat menyebabkan kematian loh!. Tetangga ana misalnya, meninggal gara - gara perut penuh angin sementara tuh angin gak mau keluar. Kata orang jawa sich…namanya angin kasep... Dan tau gak, orang yang habis operasi biasanya mampir dulu di ruang kentut dan baru keluar setelah ia kentut. Atau kalo gak, ditanya sama dokter, ”Udah kentut belum?” karena bagi orang yang habis operasi, kentut menandakan bahwa proses metabolisme dalam tubuh sudah berjalan normal. Subhanallah…Ternyata kentut itu banyak manfaatnya yach!! :) So, hargailah kentut karena sesungguhnya ia adalah nikmat Allah yang sangat mahal.
“Benda apa yang kalo empunya kehilangan justru merasa senang sedang orang yang menemukan malah marah-marah??” (Tebak2an temen)
By. Izzah saat ingat tragedy kentut pas syuro’ di sekret Birohmah :)
To: …., gak perlu merasa bersalah, kentut itu indah kok…:D:D:D
Biar Kuterima Apa Adanya
Za, mau kesekret ya? Bareng yuk! Seru Uni Fivin, kabid bidang keputrian Birohmah, ketika melihatku keluar dari gedung tempatku kuliah...
Di sela langkah menuju sekret Birohmah...
Uni, kalo seandainya...(sekilas mataku tertuju pada sosok -afwan- pincang seorang ikhwan yang berjalan di depan kami) murobbiyah uni merekomendasikan seorang ikhwan..."Terus...!?? " Antusias uni menaggapi (ehem! ) Terus...Ikhwan itu luaaaar biasa! Akhlaknya menawan...kontribusinya dalam dakwah serta pemahaman Diennya gak diragukan...dan hapalannya pun...mengagumkan! Tapi...beliau gak sempurna! Katakanlah...seperti ikhwan itu misalnya. Apa...uni bersedia menerimanya??
Diam...
Hm...gimana ya Za...uni belum bisa bilang menerima atau enggak. Uni gak mau memungkiri bahwa sesungguhnya fitrah bila kita menginginkan hal yang terbaik dari calon pasangan kita. Manusiawi. Tapi kita adalah sosok yang sudah tertarbiyah dan sedikit banyak sudah tahu bagaimana sebaik-baik kriteria dalam memilih calon suami. Pilihlah ia karena agamanya, niscaya engkau akan selamat... kalau pun kemudian Allah memberikan dia yang memiliki kelebihan dari segi fisik, kekayaan mau pun keturunan sebagai jodoh kita, maka itu bonus dari Allah yang patut untuk disyukuri. Mungkin sekarang uni cuma bisa bilang bahwa uni sedang berusaha mengkondisikan diri untuk menghadapi kemungkinan itu. Uni berharap uni bisa ikhlas, dan menerima dia apa adanya.
Berdialog dengan hati....
Uni benar. Lalu bagaimana denganku? Bisakah aku ikhlas menerima bila sosok seperti itu yang kelak Allah hadirkan untukku??
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita....(QS. Ali Imron: 14)
Harus kuakui, bahwa ada kepentingan fitrah kemanusiaan dalam pernikahan, yang mencakup wilayah perasaan laki-laki mau pun perempuan, pilihan selera, keinginan dan harapan, cita-cita, gambaran keindahan, bentukan idealitas, dan lain sebagainya. Laki-laki sah saja memiliki sejumlah keinginan terhadap calon istri yang diinginkan. Wajah, penampilan, suku, sampai tinggi dan berat badan, warna kulit dan seterusnya. Sebagaimana perempuan tidak dilarang untuk memiliki sejumlah harapan ideal mengenai calon suami. Tampan, kaya, terhormat dan lain sebagainya. Tapi...
"...Pilihlah berdasarkan agamanya, niscaya engkau selamat".(HR. Bukhari dan Muslim)
"Bisa jadi orang yang tampak kusut, berdebu, kumal pakaiannya dan tidak diperhatikan orang, kalau dia berdoa memohon kepada Allah justru akan dikabulkanNya".(HR. Muslim, Ahmad dan Hakim)
Rabb...bila memang sosok seperti itu yang kelak Engkau hadirkan untukku - bila itu membawa kemaslahatan bagi dakwah dan DienMu - maka ajari aku untuk ikhlas menerimanya. Dan hadirkan rasa cintaku padanya karena kecintaannya padaMu....
Jadi gitu ya ni...?
"Iya, lagian kita juga harus inget azas cermin diri lah Za. Kalo pengen dapet yang kayak Rasulullah, berarti udah cukup PD ngaku-ngaku udah kayak Siti Khadijah or 'Aisyah. Kalo mau dapet yang kayak Ali r.a, inget-inget apa cerdasnya kita udah kayak Fatimah Az Zahra".
Yup! Jadi inget cerita seorang akhwat tentang masalah ini. Konon, ada seorang ikhwan yang udah pengen nikah mendatangi ustadznya. Si ikhwan lalu mengutarakan niatnya. Kemudian, sederetan kriteria calon istri idaman pun diajukan. Lalu, apa kata sang ustadz?? Subhanallah akhi, kriteria antum begitu ideal, mendekati sempurna malah. Tapi sekedar informasi dari ana, akhwat juga pada minta kriteria ikhwan dengan ciri-ciri seperti ini, bukan yang seperti antum....(tahukan maksudnya??Hiks...hiks...hatiku tercabik.... ßjerit hati sang ikhwan.
Hhhh....Moga aja kesempatan meraih syurga tidak tertangguhkan hanya karena fisiknya gak sempurna ya ni...Nggg...ngomong-ngomong....uni kapan nich nikahnya?? Udah tua, ntar keduluan yang muda tahu rasa lho!! "Ya...kapan ya...eh, ngapain nanya-nanya!!? Mencurigakan, awas ya kalo berani ngeduluin uni!!" Ih, gak janji ya...namanya ibadah, fastabiqul khairat dong...!! Hehehe... "Huh, dasar anak kecil !!"
By. Izzah
Kamis, 25 Mei 2006 di 21:07 p.m koe
Sumber pikiran :") : Di Jalan Dakwah Aku Menikah By. Ust. Cahyadi Takariawan